Asrul Sani

 (Sumber: Google)

Dalam keadaan begitu, apa kesenian tidak bisa menjadi tempat pembicaraan serius dan jujur?
Ada tiga rujukan yang memungkinkan manusia memahami dirinya: ilmu, agama, dan kesenian. Kesenian melihat manusia sebagai suatu insan konkret. Di situ ia melihat kemungkinan dan kemustahilan. Di situ ia melihat jalur-jalur komunikasi. Ini yang bisa diberikan kesenian.

Ia sebenarnya seorang dokter hewan lulusan IPB. Tetapi orang lebih mengenalnya sebagai penyair, yang kemudian menunjukkan minat pada bidang kesenian lain dan masalah kebudayaan dalam arti luas. Perbincangan dengan Asrul Sani kali ini memang lebih merupakan perbincangan tentang gagasan, yang berawal dari berbagai bidang kesenian yang pernah ditekuninya: puisi, film, teater, televisi. Ternyata segala persoalan di bidang-bidang itu hanyalah bukit es yang melapisi masalah-masalah di bawahnya. Untuk ini semua, "Saya selalu bertitik tolak dari puisi," kata Asrul.

Kompas 9 Juni 1985. Wawancara bersama dengan Bre Redana.
(dalam buku Nonton Film Nonton Indonesia, JB Kristanto, Jakarta 2004)

Saya suka dengan pernyataan beliau, bahwa manusia memahami dirinya melalui: ILMU, AGAMA, dan KESENIAN. Kemudian saya berpikir, apa benar? Setelah merenungkankannya, ternyata hal tersebut tidak meleset. Nyatanya, ketiganya adalah pilar dasar bagaimana kita memilih dan menjalani jalan hidup.

Komentar

Posting Komentar