Jubah Api (Dongeng)
Dahulu kala ada seorang pangeran bernama Abe. Dia kaya dan penyayang. Temannya banyak, dari berbagai pelosok negeri. Namun, ada seorang teman yang sangat dia sayangi: teman itu berasal dari China.
Suatu ketika Pangeran Abe menginginkan sebuah jubah yang terbuat dari bulu tikus api. Jubah itu adalah permintaan seorang putri yang dia inginkan menjadi istrinya. Karena itulah sang pangeran berusaha keras memenuhinya. Dia mengirim surat ke temannya di China, meminta temannya itu mencarikan jubah unik tersebut.
Pangeran dari China merasa bingung dengan permintaan temannya itu. Dia yakin ke mana pun dia mencari tidak akan menemukan jubah seperti itu. Kalaupun ada orang yang pernah mendengarnya, tentu itu hanya dalam cerita. Bagaimanapun, pangeran dari China ingin membahagiakan temannya dan berusaha mencari. Dia memerintahkan semua pelayan mencari ke seluruh penjuru negeri. Sayang, mereka semua kembali dengan tangan hampa.
Beberapa saat kemudian pangeran mendengar ada tiga pengemis yang sedang berbicara di luar istananya. Dia kemudian memerintahkan pelayan memanggil ketiga pengemis itu. Pangeran itu bertanya kepada mereka tentang jubah bulu tikus api. Mereka menertawakan pertanyaan pangeran dan memohon izin untuk meninggalkan istana karena berpikir permintaan pangeran adalah sesuatu yang mustahil.
Namun, satu dari ketiga pengemis itu, yang berjalan pincang, tidak ikut pergi. Dia tetap berada di ruangan itu dan bercerita kepada pangeran bahwa kakeknya pernah bercerita tentang jubah unik tersebut. Jubah itu ada di dalam kuil di atas gunung yang jaraknya beribu-ribu mil dari istana. Pangeran pun menyuruh pelayanannya mencari ke sana, tapi mereka hanya menemukan kuil itu, tanpa jubah.
Pengemis itu berkata, "Pada masanya kakekku pernah melihat dengan mata kepala sendir jubah itu di sana."
Kali ini pangeran memutuskan untuk berangkat sendiri. Dengan ditemani pengemis itu, dia menuju gunung yang dimaksud. Namun, di sana mereka hanya menemukan tumpukan bebatuan. Tak tampak satu kuil pun di gunung itu. Setelah mengelilingi gunung dan mencari di setiap tempat, akhirnya mereka menemukan peti berisi bungkusan dari sutra yang indah. Ternyata di dalam bungkusan itu terdapat jubah yang diinginkan oleh Pangeran Abe.
Pangeran lalu secepatnya mengirimkan jubah tersebut ke sahabatnya, Pangeran Abe. Dengan hati gembira Pangeran Abe menerima hadiah itu. Konon, jika diletakkan di atas api, jubah itu akan bersinar dan terlihat lebih mengilat dari sebelumnya. Pangeran ingin membuktikannya. Dia menyuruh pelayan membawa api ke ruangan dan meletakkan jubah itu di atasnya. Namun, bukannya makin bersinar, jubah itu justru hangus dimakan api: hanya menyisakan asap dan debu.
Pangeran Abe sangat sedih, tapi tidak menyalahkan sahabatnya. Dia merasa malu tidak dapat mempersembahkan jubah indah itu kepada putri yang dicintainya. Karena kecewa dan rasa bersalah yang begitu mendalam, dia meninggalkan istana serta pergi entah ke mana.
Pesan Bijak: Masalah bukan untuk dihindari, tapi dihadapi, karena akan membuat kita makin dewasa. Jangan mengkhawatirkan banyaknya masalah. Yang perlu dikhawatirkan adalah masalah yang dicari-cari.
Cesilia. 2011. 101 Kisah Bijak dari Jepang yang Memperkaya Hidup.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal 214-217.
Komentar
Posting Komentar