Uguisu Hime (Dongeng)
Dulu ada seorang laki-laki tua di Provinsi Suruga bernama Take Tori-no-okina atau Mizukuri-no-okina. Setiap hari dia pergi ke gunung untuk memotong bambu dan diolah menjadi berbagai macam barang keperluan rumah tangga untuk dijual.
Suatu hari Mizukuri-no-okina pergi ke kebun bambu. Di sana dia menemukan sebutir telur di sarang burung bulbul. Dia lalu membawanya pulang dan menyimpannya. Tiba-tiba telur itu pecah dengan sendirinya. Dari dalamnya keluar seorang gadis cantik yang mungil. Karena gadis itu lahir dari dalam telur burung bulbul, Mizukuri-no-okina memberinya nama Uguisu Hime atau Putri Bulbul. Dia membesarkan putri itu seperti anak kandungnya sendiri.
Saat Uguisu Hime beranjak dewasa, dia tumbuh menjadi gadis tercantik di desa. Kecantikannya begitu memancar sehingga dia pun dipanggil dengan nama Kaguya-Hime atau Putri Cahaya. Bagian bambu yang dipotong oleh Mizukuri-no-okina dibawa pulang. Bambu itu selalu terisi penuh dengan emas. Dalam waktu singkat laki-laki tua yang miskin itu menjadi kaya raya.
Semua laki-laki tertarik dan berdebat untuk menikahi gadis cantik itu, tapi mereka harus pulang dengan kecewa karena tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh ayah dan anak itu. Penguasa pada masa itu juga mendengar tentang kecantikan Kaguya-Hime. Sambil pergi berburu, peguasa itu mampir ke Provinsi Suruga untuk melihatnya. Meskipun sudah dibujuk untuk pergi bersamanya ke ibu kota dan dijadikan istri, gadis itu menolak tawaran sang penguasa.
Suatu malam pada musim gugur Agustus tahun itu, ketika langit tengah bercahaya oleh pancaran sinar bulan purnama, sekumpulan awan tipis mendatangi Uguisu Hime dan ayahnya. Ternyata Uguisu Hime adalah seorang bidadari yang memiliki keabadian. Dengan mengajak ayahnya, mereka terbang ke langit dari puncak Gunung Fuji.
Waktu itu Uguisu Hime membuat puisi untuk ditempelkan di ramuan kekekalan dan mengirimkannya kepada sang penguasa. Ketika membaca puisi itu, sang penguasa menjadi sangat sedih dan merasa ramuan itu tidak ada gunanya. Dia tidak mau meminumnya. Dia kemudian memerintahkan ramuan itu dibawa ke puncak Gunung Fuji yang merupakan tempat terdekat ke surga untuk dibakar. Sekian lama setelah kejadian itu, puncak Gunung Fuji selalu terlihat menyala dan asapnya disebut asap Gunung Fuji. Menurut orang asap itu berasal dari ramuan yang terbakar.
Suatu hari Mizukuri-no-okina pergi ke kebun bambu. Di sana dia menemukan sebutir telur di sarang burung bulbul. Dia lalu membawanya pulang dan menyimpannya. Tiba-tiba telur itu pecah dengan sendirinya. Dari dalamnya keluar seorang gadis cantik yang mungil. Karena gadis itu lahir dari dalam telur burung bulbul, Mizukuri-no-okina memberinya nama Uguisu Hime atau Putri Bulbul. Dia membesarkan putri itu seperti anak kandungnya sendiri.
Saat Uguisu Hime beranjak dewasa, dia tumbuh menjadi gadis tercantik di desa. Kecantikannya begitu memancar sehingga dia pun dipanggil dengan nama Kaguya-Hime atau Putri Cahaya. Bagian bambu yang dipotong oleh Mizukuri-no-okina dibawa pulang. Bambu itu selalu terisi penuh dengan emas. Dalam waktu singkat laki-laki tua yang miskin itu menjadi kaya raya.
Semua laki-laki tertarik dan berdebat untuk menikahi gadis cantik itu, tapi mereka harus pulang dengan kecewa karena tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh ayah dan anak itu. Penguasa pada masa itu juga mendengar tentang kecantikan Kaguya-Hime. Sambil pergi berburu, peguasa itu mampir ke Provinsi Suruga untuk melihatnya. Meskipun sudah dibujuk untuk pergi bersamanya ke ibu kota dan dijadikan istri, gadis itu menolak tawaran sang penguasa.
Suatu malam pada musim gugur Agustus tahun itu, ketika langit tengah bercahaya oleh pancaran sinar bulan purnama, sekumpulan awan tipis mendatangi Uguisu Hime dan ayahnya. Ternyata Uguisu Hime adalah seorang bidadari yang memiliki keabadian. Dengan mengajak ayahnya, mereka terbang ke langit dari puncak Gunung Fuji.
Waktu itu Uguisu Hime membuat puisi untuk ditempelkan di ramuan kekekalan dan mengirimkannya kepada sang penguasa. Ketika membaca puisi itu, sang penguasa menjadi sangat sedih dan merasa ramuan itu tidak ada gunanya. Dia tidak mau meminumnya. Dia kemudian memerintahkan ramuan itu dibawa ke puncak Gunung Fuji yang merupakan tempat terdekat ke surga untuk dibakar. Sekian lama setelah kejadian itu, puncak Gunung Fuji selalu terlihat menyala dan asapnya disebut asap Gunung Fuji. Menurut orang asap itu berasal dari ramuan yang terbakar.
Pesan Bijak: Awal dari cinta adalah membiarkan orang yang kita cintai menjadi dirinya sendiri dan tidak mengubahnya seperti keinginan kita. Jika tidak, kita hanya mencintai pantulan diri yang kita temukan dalam dirinya.
Cesilia. 2011. 101 Kisah Bijak dari Jepang yang Memperkaya Hidup.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal 309-310.
Komentar
Posting Komentar