Teguh Karya (Mau Jadi Orang Film Yang Lain)

(Sumber: Google)
Selama ini saya mau menjajaki film untuk konsumen. Saya memang membagi film dalam dua jenis: film konsumen dan film prestise. Dan yang saya kerjakan adalah untuk mengenal siapa konsumen itu. Ini boleh dibilang penjajakan ke luar. Kita harus menyadari kondisi sosial penonton kita.
Ke dalam saya menjajaki bentuk dan tema film, menjajaki produser, pemain, dan teknisi film. Masalahnya adalah how to present. Kita memang tak punya tradisi yang satu ini: cara menyajikan. Pada akhirnya film itu kan  the art of expression buat si pembuat dan the art of having impression dari pihak si penonton. Yang kedua ini yang sering dilupakan.
Dengan begini memang saya menjadi mediator segala pihak. Karena itu marilah kita lunakkan hati masing-masing. Mari kita bekerjasama. Jangan buka front. Seniman kan berada di tengah masyarakat. Ia tidak superior.
Marilah kita tinggalkan film prestise. Bagi mereka yang mau membuat ya silahkan. Tapi marilah kita benahi dulu film konsumen yang belum punya bentuk ini. Yang ada sekarang ini kan cuma cerita-ceritaan, film-filman,. Tapi belum film as film. Belum menggunakan bahasa yang betul.
Saya memang mau mencari bentuk film konsumen. Untuk ini kita perlu bekerjasama dengan idealis-idealis kecil yang ada. Perlu dialog antar-sutradara untuk membenahi dapur kita sendiri. Marilah kita mengenal dulu siapa kita ini dan siapa penonton itu. Masalah film kan cuma ada empat: logika (motivasi), teknik, estetik, dan artistik. Keempat faktor inilah yang selalu berkelahi dalam setiap pembuatan film.
Kelemahan film-film kita adalah karena dibuat tanpa konsep. Kelemahan ini timbul karena ada dua kutub dalam dunia film kita: dunia orang-orang yang berpengetahuan dan orang-orang praktik. Dua dunia ini memiliki bahasa yang gampang.
Kerja film adalah kerja kelompok. Kita butuh ahli kamera, ahli kabel dan listrik, dan lain-lain. Sementara itu orang-orang praktik ini membutuhkan pengetahuan estetika dan artistik. Marilah kita menjadi benar-benar profesional dalam bidang kita ini bukan profesional-profesionalan. Saya memang ini jadi orang film yang lain.

Kompas 8 Februari 1975. Ditulis bersama dengan Arswendo Atmowiloto
(dalam buku Nonton Film Nonton Indonesia, JB Kristanto, Jakarta 2004)


Saya setuju sekali dengan pernyataan beliau. Di tahun 1975 saja, beliau telah sangat sensitive terhadap seluk-beluk permasalahan yang terjadi di perfilman Indonesia. Teguh Karya sangat memahami Film Nasional 'sebaiknya akan diapakan' dan bagaimana menemukan formula yang tepat untuk dimiliki Film Indonesia, sehingga beliau mengatakan "Dengan begini memang saya menjadi mediator segala pihak" yang menyatakan bahwa beliau berada di tengah tidak memihak si pintar dan si tekniksi.

Komentar