Telur di Sarang Burung Walet (Dongeng)

Pada zaman dahulu ada seorang pangeran yang sombong dan suka memerintah. Dia ingin mencari telur di sarang burung walet untuk memenuhi permintaan seorang putri yang dicintainya. Sekembali dari kunjungannya ke putri itu, dia memanggil semua kepala pelayan. Dia ingin tahu apakah ada yang tahu tentang telur yang berada di sarang burung walet. Salah satu kepala pelayan mengatakan tidak tahu apa-apa, tapi melanjutkan, "Mungkin tukang kebun tahu sesuatu, Tuan. Aku akan memanggilnya kemari."
Tukang kebun mengatakan tidak tahu apa-apa: mungkin tukang air yang tahu. Tukang air kemudian dipanggil, tapi dia pun tidak mengetahuinya. Lalu, dia menunjuk orang lain lagi hingga semua pelayan dipanggil, tapi tak seorang pun tahu keberadaan telur dalam sarang burung walet itu. Akhirnya mereka bertanya kepada serorang anak. Ternyata dia pernah melihat sebuah telur di sarang burung walet yang berada di atap dapur.
Pangeran sangat gembira dan memerintahkan pelayan mengambil telur itu. Mereka mencari lama, tapi tidak menemukannya. Sang pangeran tidak mempercayai mereka dan bersikukuh untuk mencarinya sendiri di atap dapur.
Akhirnya, dia menemukan sarang burung walet itu dan meihat telur di dalamnya. Namun, ketika sang pangeran mengambil satu telur, induk burung itu marah dan mematuki bola sang mata pangeran, membuatnya kehilangan keseimbangan.
"Awas, Pangeran. Hati-hati!" teriak para pelayan di bawah.
Malang, pangeran terjatuh di atas kompor panas sehingga tubunhnya terbakar. Para pelayan pun segera berusahan menolong majikan mereka. Meskipun berhasil diselamatkan, pangeran mengalami luka di sekujur tubuh dan matanya berlumuran darah akibat patukan burung walet.
"Ini yang kuterima demi mendapatkan sebuah burung telur walet. Oh.. sakit sekali," keluhnya. Setelah lukanya sembuh, dia tidak mau lagi mengambil telur di sarang burung walet.

Pesan Bijak: Kadang tanpa sadar kita memaksakan kehendak kepada orang lain dengan beralasan itu demi kebaikan bersama. Padahal, kehendak kita belum tentu sama atau diterima oleh orang lain.

Cesilia. 2011. 101 Kisah Bijak dari Jepang yang Memperkaya Hidup. 
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal 221-223.

Komentar